Tujuan

-Menghasilkan ide-ide inovatif dan solusi konkret yang dapat diterapkan dalam pembangunan Seni masa kini, khususnya Solo sebagai kota budaya dan pendidikan yang berdaya saing di masa depan.

-Meneruskan ilmu pengetahuan dari jurnal dan buku dengan cara bertransaksi secara lisan, audio visual, dan teks pada khayalak umum.
-Mengarsipkan proses kreatif atau praktik seni sebagai kerja penelitian dengan membaca keotentikan dari pandangan seorang pengkarya atau pencipta seni.

-Memetakan basis riset dalam arsip cetak, digital, audio visual untuk dapat diakses secara luas dan menjadi rujukan yang tetap relevan pada masa mendatang.

-Mengemas diskusi dengan pendekatan budaya pop sehingga santai, terbuka, dan dapat mewacanakan isu kesenian berbasis ilmu pengetahuan kepada mahasiswa/i, pelajar, lintas kolektif, hingga masyarakat umum.

-Memperluas produktifitas apresiasi seni secara kritis, terutama di Solo.

Data Acara:

1. Rendra Agusta, S.S., M.Sos – Peneliti muda fokus pada naskah-naskah dan arsip Jawa. Menyelesaikan Studi S1 Sastra Jawa dan S2 Kajian Budaya di Universitas Sebelas Maret. Salah satu kajiannya adalah Kajian Filologis Historis terhadap korpus naskah Siti Dhusun di Yogyakarta dan Surakarta 1755-1830. Saat ini aktif dalam Komunitas Sraddha, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pernaskahan dan kesusasteraan Jawa Kuna dan Klasik di Surakarta.

2. Tyassanti Kusumo Dewanti, M.A. – lulusan arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada dengan peminatan epigrafi Jawa Kuno. Menyelesaikan pendidikan pascasarjana studi Asia, masih dengan spesialisasi epigrafi Jawa Kuno di École Pratique des Hautes Études (EPHE, PSL) Paris, pada 2022 dengan fellowship dari proyek riset DHARMA (ERC n°809994). Saat ini mengampu tugas sebagai Staf Ahli Penataan Museum di Puro Mangkunegaran, Surakarta. Mengembangkan kanal media dan jurnalistik arkeologi Redaksi Lampau (lampau.in) bersama beberapa alumni arkeologi UGM guna mendiseminasi hasil penelitian arkeologi dalam bahasa lebih populer dan menghadirkan cerita di balik kerja-kerja kebudayaan.

3. Abdul Aziz Rasjid – Penulis esai, jurnalis, kurator, dan pembuat film dokumenter.

– Waktu : 25 Februari 2024, 19.00 WIB

– Topik : Sejarah Lisan dan Kesenian

– Judul diskusi : Seni, Segala-galanya Dongeng Sebelum Tidur

– Moderator : Rudi Agus Hartanto

– Tempat : Hetero Space, Solo.

Latar Belakang Topik:

Setelah diskusi Tilikan #10 terkait Vandalism dan Prasejarah—notulensi lengkap dapat disimak pada tautan https://tiliksarira.com/tilikan-10-nenek-moyangku-seorang-seniman-vandalism-dan-prasejarah/ kita bergeser menuju zona sejarah lisan dalam tajuk “Seni, Segala-galanya Dongeng Sebelum Tidur.”

Pada 1886, Masyarakat Linguistik Prancis melarang mendiskusikan asal-muasal bahasa. Sebab, menurut mereka, itu cuma spekulasi yang tiada arti, Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (2009:281). Hal itu lekat dengan pendapat Saussure (1988: 10) bahwa beberapa aspek bahasa memang dapat dipahami dengan mempelajari sejarah bahasa, tetapi ada fakta-fakta lain yang hanya dapat diperoleh bila dipandang secara sinkronis saja—sebagai fakta sosial yang terkait masa terbatas.

Di luar pelarangan itu, kita tahu Noam Chomsky berpendapat bahwa bahasa manusia, merupakan unsur budaya paling mencolok di antara semua perilaku kita, juga dipengaruhi oleh naluri selain pembudayaan. Chomsky menghidupkan pandangan lama mengenai bahasa, yang pernah diangkat oleh Darwin sebagai “Kecenderungan naluriah untuk menguasai sebuah seni”, Matt Ridley, Genom, (2017:115).

Pandangan ini menggiurkan untuk dibongkar ulang, dikaji, dan dibicarakan. Namun, apakah artinya menguliti sesuatu yang hampir tak terlacak; perilaku dan lisan yang tak menjadi fosil dan artefak, selain tulang, tulisan pada batu, ukiran, dan sebagainya? Demikian yang barangkali mendasari Saussure bahwa bahasa—lisan—terikat pada keterbatasan waktu tertentu. Karenanya, benang keberasalan bahasa lisan yang terus berkembang antarwaktu dan peristiwa patut untuk ditilik lebih lanjut.

Perdebatan asal-muasal bahasa, menuai percabangan yang jauh. Seperti; pengakuan bahwa Kaisar Cina T’ien-tzu mengajarkan bahasa pertama pada manusia. Atau seekor kura-kura diutus Tuhan membahwa bahasa ke orang-orang Cina. Atau juga, di Jepang, Babilonia percaya bahwa bahasa pertama berasal dari Tuhan. Semua ini pernah dibantah oleh Johann Gottfried von Herder pada abad ke-18, yang mengungkapkan bahwa tidaklah tepat mengatakan bahasa sebagai anugerah Ilahi. Menurutnya, bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba-coba berpikir, ibid (2009:283).

Beberapa teori seperti Dingdong Theory, yang menghadapkan seseorang pada situasi tertentu dan menimbulkan bebunyian atas insting seketika. Atau Yo-he-ho Theory, menyimpulkan bahwa bahasa lahir dalam kegiatan sosial yang membutuhkan energi. Gerakan-gerakan yang memerlukan tenaga ekstra, menghasilkan bunyi-bunyi seperti tarikan napas dan sebagainya. Bow-wow Theory mengatakan bahasa pertama kali adalah tiruan atas bunyi alam, seperti hujan, ombak dan sebagainya. Dan tentu saja, isyarat atau ekspresi yang diyakini mendahului lisan.

Beberapa teori di atas sulit diyakini karena tidak ada objek/fisik yang dapat membuktikannya, kecuali realitas ketika kita kaget kemudian menimbulkan suara spontan. Dan yang—kiranya—paling mudah dipahami, terjelaskan pada bab Kromosom 7, Naluri, bahwa Broca-homologue atau daerah otak kera yang homolog dengan daerah Broca berfungsi mengendalikan otot-otot wajah, pangkal tenggorok, lidah, dan mulut…. Ketika manusia purba pertama kali mengembangkan naluri untuk berbahasa, modul untuk ini berkembang di daerah yang telah dikhususkan untuk pembuatan dan pengolahan bunyi…. ..bahasa memiliki hubungan fisik yang intim sekali dengan pembuatan dan pengolahan bunyi, Ibid (2009:128).

Pendekatan Matt Ridley ini, memberi jalan terang atas evolusi bahasa. Serta mendukung keberadaan Homo sapiens yang dapat melewati masa kritis. Menciptakan benda-benda yang diyakini dapat disebut seni. Membentuk kebudayaan, bercocok tanam, berburu, menjalani kehidupan yang primitiv hingga modern dalam peradaban seperti saat ini. Dengan kemampuan berbahasa secara lisan, Homo sapiens menentukan segalanya.

…. Bahasa kita berevolusi sebagai cara bergosip….Teori gosip mungkin terdengar seperti lawakan, namun banyak peneliti mendukungnya…..ciri yang benar-benar khas di bahasa kita…kemampuan.. menyampaikan informasi mengenai hal-hal yang sama sekali tidak ada. Sejauh yang kita tahu, hanya Sapiens yang bisa membicarakan tentang segala macam entitas yang tidak pernah mereka lihat, sentuh, atau cium baunya, Yuval Noah Harari, Sapiens (2017:26-28).

Inilah yang disebut sebagai kemampuan berimajinasi, mimpi, fiksi di balik harapan setiap Sapiens…., fiksi telah memungkinkan kita bukan hanya mengkhayalkan ini-itu, melainkan juga melakukannya secara bersama-sama, ibid (2017:29).

Sebab itu bahasa bekerja di balik kekuatan fiksi. Mempengaruhi orang, berkumpul dan meyakini bahwa subjek di depan patut mendapat kepercayaan. Lisan, memiliki kemampuan sihir yang dapat mengubah kita menjadi apa yang diinginkan oleh bahasa tertentu. Maka tidak heran, kita dapat menyaksikan upacara adat (di luar pemahaman kita) yang janggal, hanya karena kita bukan bagian darinya. Tetapi mereka, saling meyakini. Kita menyaksikan ritual-ritual kesenian, menyenandungkan mantra, memanggil hujan dan sebagainya. Di sini, bahasa bekerja sebagai sistem pengetahuan yang diwarisi secara lisan kepada keturunan-keturunan kelompok tertentu.

Kemudian, bagaimana dengan warisan peninggalan sejarah seperti artefak? Candi? Apakah pengaruh lisan/bahasa dapat mengintervensi pemaknaan yang melibatkan eksistensi Sapiens? Dalam arti bukan dikategorikan sebagaimana hakikat masa lalu, tapi menghadirkannya sebagai kebutuhan dan situasi kepercayaan kolektif manusia masa kini. Tentu saja, faktor dan pengaruh luar (tertentu), kadang-kadang mengganggu dan membuat kita bimbang.

Sekarang, sebagian dari kita mungkin pernah mendengar ungkapan seperti “Lisan/suara akan lenyap, tapi huruf yang tertulis akan menetap” atau “lisan/suara selalu menjadi bagian antara yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi”. Perkataan demikian, sepertinya patut kita pertanyakan ulang pada saat ini.

Teknologi mengubah segala yang lenyap atau terlupakan. Suara-suara (di masa kini) dapat tersimpan, didengarkan ulang, meski dulu, kita hanya mendengarnya secara sekilas dari dongeng sebelum tidur, nasihat, pantun pusako, tembang, radio, telepon umum, dan sebagainya. Satu-satunya cara untuk dapat mengakses yang terlupakan adalah dengan mengingatnya. Kita beruntung, karena rekaman wawancara, rekaman pidato, rekaman televisi, internet, membuktikan bahwa lisan dapat berlaku “masa kini”.

Naluri berbahasa yang kita miliki jelas salah satu bukti adaptasi kompleks, yang dirancang secara indah untuk mewujudkan komunikasi yang jelas dan canggih satu sama lain, Matt Ridley, Genom (2017:131). Seperti yang dikatakan Robin Dunbar (2009) Why only humans have language? Retrieved from https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199545872.003.0002 Bahasa adalah masalah dari sudut pandang evolusi: upaya kita untuk menjelaskan asal-usul dan distribusinya pasti dikacaukan oleh fakta bahwa hanya satu spesies yang benar-benar memilikinya….. Fakta yang jelas adalah tidak ada spesies lain selain spesies kita yang telah mengembangkan sistem komunikasi dengan kecanggihan dan kerumitan seperti itu.

Pada tilikan ke#11 bulan Februari ini, kita (harus) sedikit meyakinkan diri, bahwa bahasa hanya dimiliki oleh kita. Dan untuk itu, perlu kiranya kita membongkar tuduhan diskusi asal-muasal bahasa yang pernah dilarang. Melihat lisan yang terlupakan lewat arsip, artefak, fosil, lapisan tanah yang menyimpan narasi kehidupan, sebagai warisan yang dapat ditembus dengan penelitian dan bahasa.

Mengingat Jakob Sumardjo, Estetika Paradoks,(2006:21) Yang terserak-serak harus kita kumpulkan kembali. Lantas kita kategorikan. Dan akhirnya kita temukan pola. Dan sturktur dasar dari artefak-artefak itu.

Kemudian, kita akan membicarakan proses penciptaan yang mengacu pada mekanisme pengetahuan, simbol, dan nilai masa lalu. Dan bagaimana posisi bahasa menentukan banyak hal, terkait kehidupan, penciptaan, kekuasaan, dan lainnya.

Poin Pembahasan:

1. Apa yang terjadi di Prancis pada abad 19 cukuplah menarik, bahwa mencari tahu keberasalan suatu bahasa dianggap sebagai spekulasi yang tiada arti. Meski begitu, perdebatan tentang bagaimana bahasa memengaruhi kebudayaan dan kondisi sosial terus berlanjut. Dalam kondisi demikian, bagaimana kemudian bahasa dimengerti untuk merepresentasikan masa lalu?

2. Bagaimana relasi yang terjadi antara bahasa—mengacu penjelasan Saussure bahasa sebagai sistem tanda (sign); bebunyian, simbol, gambar, dan simbol sejenis—dengan temuan sejarah, arkeologi, maupun filologi terhadap proses penciptaan seni dan perkembangan kebudayaan?

3. Bahasa yang digunakan era kiwari—bahasa nasional maupun bahasa daerah—merupakan hasil dari konsensus masyarakat dari masa sebelumnya—yang kemudian terus terjadi pemerkayaan atau perkembangan. Melihat itu, meletakkan bahwa bahasa bukan hanya duduk sebagai fungsi deskripsi dan ekspresi, tetapi juga memiliki fungsi indoktrinasi yang dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya dan dunianya. Dalam konteks memahami spektrum warisan lisan dan budaya, bagaimana kemudian pendekatan yang diperlukan agar mendapatkan pengertian yang holistik?

4. Cerita lisan tradisional Jawa dan artefak seperti ukiran kayu atau temuan arkeologis, membentuk dan tercermin dalam materi budaya fisik dari masa lalu. Bagaimana tradisi lisan dalam budaya Jawa kuno membantu dalam memahami makna dan interpretasi dari artefak seperti gambar atau patung?

5. Dalam konteks evolusi bahasa manusia, sejauh mana kita dapat mengandalkan bukti arkeologis dan artefak budaya untuk mengungkapkan perjalanan dan perubahan bahasa seiring waktu? Apakah pengaruh lisan dan bahasa dapat diintervensi dalam penafsiran artefak budaya, ataukah kita harus bergantung sepenuhnya pada bukti fisik dan materi? Yang jelas, lisan secara turun-temurun, dapat diragukan kebenarannya.

6. Sejauh mana artefak arkeologis menjadi saksi bisu dari dinamika kekuasaan di dalam masyarakat kuno, dan apakah analisis bahasa yang terdapat dalam artefak tersebut dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang struktur kekuasaan dan perubahan sosial? Atau ada bukti, penemuan unik yang diciptakan bertolak dari yang berkuasa?

Catatan: diskusi tilikan tidak terikat dengan tor secara utuh. Pembahasan bisa bebas dan mengarah pada hal-hal tak tercatat, selama masih dalam alur yang disepakati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *