Data Acara

Penilik :

• Wahyu Eko Prasetyo. – Ruang Atas.

• Peri Sandi – Dosen Teater Institut Seni Indonesia Surakarta

• Luna Dian Setya – Seniman Perupa Perempuan.

– Waktu : 26 Mei 2024, 20.00 WIB

– Topik : Seni dan Modern

– Judul diskusi : Seni modern adalah area bencana – Moderator : Rudi Agus Hartanto

– Tempat : Hetero Space, Solo

Latar Belakang Topik

Kehidupan terus berjalan, tak peduli kita sedang sakit atau patah hati. Kehidupan tentu
tidak dapat berhenti hanya karena kita (merasa) tak mengalir dalam waktu. Berjalannya kehidupan,
merupakan proses menuju perubahan. Bisa jadi perubahan kecil bahkan besar sekaligus perubahan
yang menyebalkan.

Ketika kita melihat buku sejarah, atau laporan penelitian yang berhubungan dengan
kehidupan manusia, alangkah asingnya gambaran yang akan kita dapatkan. Barangkali kita bisa
mengatakan, masa lalu itu hanya cerita belaka. Bukanlah realitas yang dapat kita rasakan pada hari
ini. Tetapi, meyakini hal ini, sekaligus meruntuhkan apa yang kita jalankan. Pergeseran warung-
warung konvensional, mesin parkir otomatis, mobil listrik yang nyata adanya dan seterusnya. Hal
ini juga berlaku di dunia kesenian.

Kita sedikit tahu, bahwa dahulu manusia tak memiliki daya serta upaya untuk
berkreativitas. Hampir semua hal teratur dengan apa yang pantas untuk disajikan. Namun,
belakangan, dengan munculnya peristiwa membaca, berkreatif, mengubah pandangan seni agama
menjadi seni untuk seni, hingga dorongan meruntuhkan ajaran keras untuk terikat pada suatu kuasa,
manusia mulai meragukan kebenaran yang berlaku dan yang pada kenyataanya tak mampu berbuat
lebih dari yang diinginkan. Manusia mulai mendapat ruang dan kebebasan berkreatif hingga
akhirnya, semua kebenaran dapat muncul dari berbagai sudut pandang.

Di dalam dunia kesenian, hal ini terlihat jelas dengan pergeseran pelaku dan penikmat.
Kebebasan berkreativitas, hampir mendominasi semua lini kesenian. Seperti pertunjukan,
performance, street art dan lainnya.

Hal ini yang akan kita bahas dalam diskusi Tilikan ke #13. Dari mana datangnya
perpecahan suatu pandangan yang agung/besar? Bagaimana kita (dunia seni) terpengaruh oleh hal-
hal lain. Lalu bagaimana dengan kesenian yang terikat dengan upacara? Apa saja toleransi
kebebasan berkreativitas? Bagaimana ia menjadi kesenian yang dikembalikan kepada kesenian?

Poin Pembahasan

1. Bagaimana kedudukan seni dalam arus perubahan masyarakat? Dalam hal ini, kesenian
agung dalam “kuasa” menjadi kesenian konseptual dan semacamnya di era modern?

2. Di Solo, atau kota besar lain, bagaimana pergeseran iklim kesenian, katakanlah akademisi
yang (katanya) memegang kendali, dengan praktik mahasiswanya?

3. Apa contoh besar, atau suatu peristiwa penanda, modernisasi mahasiswa, terutama, atau
juga bisa pelaku kesenian di luar yang menolak kuasa atau tak berpihak pada yang “satu”.

4. Apakah terjadi bias antara seniman dan masyarakat yang kini dapat mengekspresikan
dirinya di media sosial lalu dikomentari nyeni? Ini semacam perkembangan atau dampak
dari modern.

5. Rata-rata bangunan rumah di Indonesia sebagai identitas, atau seragam di ranah akademisi,
terlihat sedikit berantakan belakangan ini. Maraknya pembangunan yang jauh dari apa
yang dipercaya (sebagai orang indonesia), juga seragam yang dianggap “ikatan/mengikat”.
Apa komentar anda tentang hal ini? Mengapa di satu sisi, kita mengikuti “kuasa” dan di
sisi lain menolaknya. Atau jangan-jangan, ini dampak lain dari modern?

6. Kedudukan sebuah “nilai” terhadap suatu objek tidak lagi sentralistik, kedudukannya yang
kian mencair menjadi perebutan pihak tertentu agar terlihat. Keberagaman yang
ditemukan, terutama dalam dunia seni, tentu pada akhirnya adalah sebuah keniscayaan.
Bagaimana posisi “nilai” di kesenian hari ini? Mungkinkah terarah atau justru terikat?

7. Dalam kaitannya dengan dunia seni yang tumbuh di iklim yang penuh tarik-menarik atas
ragam pandang, teknologi, industri, dan hal berikat lainnya. Bagaimana dunia kesenian
berjalan? Apa pengaruh terbesar yang kemudian menentukan?

8. Apa keuntungan kebenaran dapat dimaknai dalam berbagai sudut?

9. Keraguan yang muncul, kebenaran dimiliki oleh banyak hal, keindahan juga demikian,
tetapi dalam pameran dan pertunjukan, kita masih menemukan kurator, tulisan, dan hal-hal
terkait. Mengapa demikian? Apakah ada ketimpangan modern?

Catatan: diskusi tilikan tidak terikat dengan tor secara utuh. Pembahasan bisa bebas dan mengarah pada
hal-hal tak tercatat, selama masih dalam alur yang disepakati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *