Data Acara

Penilik :

  1. Martin Suryajaya – Penulis Semarang yang tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai dosen Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Novelnya, Kiat Sukses Hancur Lebur (baNANA,2016), memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 serta menjadi Novel Pilihan Majalah tempo 2016.
  2. Dessy Rachma – Pelaku seni rupa dengan peran beragam sebagai penulis, peneliti, kurator, seniman dan dosen seni rupa yang tinggal di Solo. Di bidang penulisan dan penelitian, fokus kajiannya adalah tentang perkembangan dunia seni.
  3. Gunawan Tri Atmodjo – Penulis dan penjual buku Solo. Buku yang sudah ditulisnya adalah Pelisaurus (Basabasi,2017), Dongeng Bahagia dari Sebuah Telinga (Diva Press, 2018), dan Musuh Bebuyutan (Diva Press, 2022)


– Waktu : 22 Juni 2024, 19.30 WIB

– Topik : Seni dan Postmodernisme, Novel Sebelum Hancur Lebur.

– Judul diskusi : Hallo, Kusut-Sastraan Indonesia!

– Moderator : Beri Hanna

– Tempat : Hetero Space, Solo.


Terms Of References

– Latar Belakang Topik:

Hallo, Kusut-Sastraan Indonesia!

Kusut-Sastraan di mana kemapanan selayang pandang di puncak sastra dan kesuksesan para sastrawan, menjadi cerita tragedi, komedi, spekulasi dan halusinasi yang digarap Martin Suryajaya. Bukunya berjudul “Sebelum Hancur Lebur” terbitan baNANA akan jadi rujukan Tilikan ke #14.

Para penulis berobsesi mendapat validasi, status sosial dan seterusnya. Sedangkan yang lainnya, memegang teguh semangat menyuarakan bagian yang terlupakan/bagian kecil dari dunianya. Namun, yang kedua di sini lebih kerap tak dianggap, bahkan oleh kalangannya sendiri.

Ekosistem Sastra Indonesia, juga digerakkan oleh proyek pemerintah, kucuran dana dari proposal, hibah, dan kepentingan lainnya. Maka tidak heran, bila kita mudah mendapati Sastra Indonesia yang serentak seragam dalam satu waktu.

Latar belakang pembahasan kita akan dimulai dari Anto Labil mendamparkan dirinya dengan sebuah perahu curian ke sebuah pulau tak berpenghuni, setidaknya itu yang ia yakini, setelah acara Temu Sastra Indonesia di Ternate yang membuat penyair, novelis, cerpenis, kritikus, dan banyak lagi yang mengaku sebagai sastrawan terunta-lunta tidak bisa pulang.

Pada situasi saat ini, rasa-rasanya masyarakat tidak berminat dengan puisi, dengan prosa dan kritik sastra. Terlalu banyak mitos pada sastra, terlalu banyak drama di kalangan penulis. Sedikit pelibatan masyrakat, menderas jauh ke puncak sastra atas nama kemapanan dan melupakan, siapa pembaca buku-buku sastra?

Tajuk membangun literasi dan sebagainya dianggap (ampuh) sebagai jalan keluar yang gampang tersebut dan dikampanyekan hampir di semua media serta kalangan. Apakah pentingya? Dalam Tilikan kali ini, kita akan berbagi kisah, mendengar respons, saling tanggap dan bertukar pikir.

Apakah sastra ada di dalam goa? Kantong celana, atau segelas es teh yang anda beli hari ini? Apakah sastra hanya ada di media online? Buku? Jangan-jangan sastra adalah kawan kita, tetangga kita, sastra adalah setiap orang yang kita temui tetapi terlupakan.

Kehancuran sastra dalam konteks pembicaraan kita, dilihat dari kehidupan penyair higienis yang termenung di sebuah pulau. Memikirkan kontruksi menulis dengan cara apa dia dapat diakui sebagai simbol yang dapat menciptakan arus pasar baru? Apakah menulis itu sia-sia? Melihat buku-buku yang berdebu atau bahkan terbakar, sepertinya kita dapat sepakat dengan itu. Namun di satu sisi, sastra mengatakan yang lain, sastra membawa kelompok, membawa bendera festival, seminar hingga masuk ke dalam pidato kebudayaan.

Apa yang terjadi pada kemapanan sastra Indonesia? Apa pula yang digugat pada ekosistem susastra? Benarkah menulis tidak membuat pusing? Kita bisa saja diam dan tidak melibatkan diri pada apa-apa. Tetapi “bagaimana caranya berhenti pusing jadi penulis atau tidak? Bagaimana caranya puas menjadi pembaca saja? Bagaimana caranya memadamkan api penciptaan? (217) dan bagaimana pula caranya diam mengangguk-angguk tidak pusing, bahkan ketika Tilikan berlangsung dan selesai?

– Poin pembahasan

  1. Bagaimana pembacaan Dessy tentang sastra? Festival dan buku ini?
  2. Bagaimana tanggapan Gunawan tentang temu sastra Ternate?
  3. Apa yang ingin disampaikan Martin atas obsesi kehancuran?
  4. Sebagai seorang yang kerap terlibat di dunia kesenian, bagaimana Dessy melihat ekosistem sastra dari perspektif seni rupa?
  5. Dalam beberapa kesempatan, sebagian dari kita lebih mengingat mitos dan humor sastra daripada isi cerita buku. Menanggapi humor dan mitos sastra, apa yang ingin Gunawan sampaikan?
  6. Mengapa sastra, kerap buram dalam perjalanannya. Katakanlah susupan proyek dan pendanaan, sastra sering kali bertengkar. Bagaimana Martin melihat ini?


Catatan: diskusi
tilikan tidak terikat dengan tor secara utuh. Pembahasan bisa bebas dan mengarah pada hal-hal tak tercatat, selama masih dalam alur yang disepakati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *